Budidaya Udang Berkelanjutan di Wahyuni mandira
Kawasan tambak udang di Desa Bumi Pratama Mandira, Kecamatan Sungai Menang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, memiliki rekam jejak panjang dalam industri perikanan nasional. Dulunya dikenal sebagai area pertambakan terpadu yang dikelola oleh PT Wachyuni Mandira (WM), kawasan ini kini bertransisi menjadi sentra budidaya udang mandiri berbasis kemasyarakatan yang menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan.
Transformasi dari sistem korporasi berskala masif menuju budidaya berkelanjutan (sustanable aquaculture) yang digerakkan oleh petambak lokal menjadi pilar utama ekonomi pesisir OKI.
1. Transformasi Tata Kelola: Dari Korporasi ke Koperasi
Pasca berhentinya operasi skala industri PT Wachyuni Mandira, pengelolaan petak-petak tambak diserahkan dan dikelola secara mandiri oleh masyarakat setempat melalui wadah Koperasi Usaha Bersama (KUB).
Struktur Kepemilikan: Setiap Kepala Keluarga (KK) mengelola unit tambak skala mandiri (rata-rata 2 petak kolam).
Diversifikasi Komoditas: Selain udang windu (Penaeus monodon), petambak mengoptimalkan budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang memiliki ketahanan lebih baik dan siklus panen lebih cepat.
Catatan Ekonomi: Produksi udang vaname dari kawasan ini menjadi salah satu penyumbang devisa ekspor perikanan terbesar bagi Sumatera Selatan, dengan potensi produksi mencapai belasan ribu ton per tahun.
2. Pilar Budidaya Udang Berkelanjutan di Wahyuni Mandira
Penerapan prinsip sustainable aquaculture di kawasan eks-Wahyuni Mandira bertumpu pada tiga pilar utama:
A. Elektrifikasi Tambak & Efisiensi Energi
Sebelumnya, aktivitas aerasi (kincir air) dan pompa air tambak sangat bergantung pada mesin diesel ber bahan bakar solar. Masuknya jaringan listrik PLN ke kawasan pertambakan memicu perubahan besar:
Penghematan Biaya Operasional: Penggunaan listrik menekan biaya energi hingga 50–60% dibandingkan genset solar.
Pengurangan Emisi: Menurunkan jejak karbon dan risiko pencemaran ceceran oli/solar ke perairan tambak.
B. Manajamen Biosekuriti & Kualitas Air
Budidaya berkelanjutan menuntut pengendalian penyakit udang secara ketat tanpa merusak ekosistem:
Sistem Tandon & Filtrasi: Air laut/payau yang masuk disaring dan diendapkan terlebih dahulu di kolam tandon sebelum dialirkan ke kolam budidaya untuk mencegah pemicu patogen.
Aplikasi Probiotik: Menjaga kestabilan mikroflora air dan mengurai sisa pakan tanpa mengandalkan bahan kimia berbahaya.
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL): Air bekas budidaya diolah terlebih dahulu sebelum dibuang kembali ke muara untuk menjaga daya dukung lingkungan pesisir.
C. Konservasi Pesisir dan Mangrove
Keberlanjutan tambak udang tidak dapat dipisahkan dari vegetasi mangrove sekitar. Pohon bakau berfungsi sebagai benteng alami dari erosi pesisir, penyaring polutan, dan tempat pemijahan alami fisiologis biota laut.
3. Tantangan dan Prospek Masa Depan
Pengembangan kawasan budidaya udang Wahyuni Mandira membuktikan bahwa area tambak dapat kembali produktif dan ramah lingkungan melalui pendekatan berbasis masyarakat, efisiensi energi, dan pengelolaan lingkungan yang terintegrasi.


No comments for "Budidaya Udang Berkelanjutan di Wahyuni mandira"
Post a Comment